Bergurulah, Jangan Maksa

1/3
Bergurulah Jangan Maksa

Pembahasan terhadap Agama Islam hari ini kian memiliki kesan yang cenderung menyeramkan. Hal ini tidak terlepas dari rentetan kejadian yang terjadi di tataran nasional yang mengakibatkan setidaknya dua pandangan dalam proses seseorang menunjukkan citra agamanya. Di satu sisi muncul ke permukaan kelompok yang menampilkan citra agama yang penuh cinta kasih, berbuat baik terhadap sesama, mengedepankan toleransi yang tinggi, menghargai perbedaan dan semacamnya. Di sisi lain ada golongan yang menampilkan wajah garang, mudah memberikan penghakiman terhadap orang lain yang berbeda pandangan, menunjukkan superioritas, menunjukkan garis terhadap perbedaan.

Meskipun terlalu naïf jikalau kita tidak memperhatikan faktor diluar beberapa gambaran tersebut, pun dengan pengelompokan tersebut, orang yang teridentifikasi sebagai satu diantara kedua kelompok diatas hanya memiliki satu sudut pandang sesuai kelompok tersebut. Namun, setidaknya dua wajah itu yang ditampilkan saat dalam keadaan tidak sedang sendiri.

Wajah yang demikian tidak terlepas dari proses pemahaman agama islam oleh para pemeluknya. Dengan semakin majunya teknologi informasi membuat munculnya media yang semakin memudahkan dalam mengetahui sesuatu, tidak terkecuali agama. Memang media yang saat ini berkembang sangat memudahkan seseorang untuk dapat mencari informasi perihal ilmua agama, hukum agama, kajian, literature serta penafsiran terhadap teks suci agama.

Media lebih jauh menjadi sebuah kawah candradimuka bagi sebagian golongan untuk memperdalam ilmu agama islam. Nah, perpindahan pola belajar agama dari yang semula melalui lembaga-lembaga keagamaan di dunia nyata berupa madrasah, surau, maupun ngaji dengan ahli agama menuju belajar yang terkesan instan menggunakan media internet menimbulkan beberapa dampak berantai. Diawali dengan tidak sempurnanya seseorang dalam memahami sebuah hukum karena mengandalkan kemampuannya sendiri yang belum mengerti betul itu untuk mengerti hal-hal kompleks dalam agama. Hingga mengkonsumsi media yang sejatiya mengandung penggiringan arus  hal-hal diluar substansi agama itu sendiri. Dengan kurangnya keilmuan yang dimiliki menyebabkan seseorang akan sangat mudah menjatatuhi hukum terhadap satu hal. Kita tahu bahwa di islam sendiri perihal hukum selain terdapat syariat, juga ada fikih. Perlu banyak waktu dan sudut pandang yang tepat dalam memahaminya. Yang paling mudah terjadi pada orang yang seperti dijelaskan diatas adalah mudah tergiring arus.

Maka disini kita mengerti bahwa pentingnya berguru dengan baik dan benar. Nah, agar tidak dianggap bahwa ini adalah opini belaka berikut beberapa dalil yang menerangkan perihal pentingnya berguru.

  • “…Bertanyalah kepada Ahli Zikir (Ulama) jika kamu tidak mengetahui” [An Nahl 43]
  • ” ….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujaadilah [58] : 11)
  • Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Az-Zumar [39]: 9).
  • “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. (TQS.Fathir [35]: 28)
  • “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (Al ‘Ankabut:43)
  • “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat2 yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (Al Ankabut:49)

Dengan mengutamakan belajar dengan guru yang tepat tentunya telah mengupayakan kepada membangun citra agama yang lebih baik. Tentu kita tidak menginginkan citra yang buruk terhadap agama yang kita anut bukan? Belum lagi adanya fakta bahwa beberapa citra yang buruk tersebut sedang dilakukan oleh golongan lintas negara melalui framing medianya, sebutlah media barat contohnya. Menurut Dr. Jasafat, memajuan teknologi media dapat menyiarkan informasi secara aktual kapan saja. Terkait soal Islam, media Barat sampai saat ini adalah kurangnya suara moderat Islam.[1] Dampak yang muncul ketika framing tersebut berhasil menggiring arus dalam negeri tentu akan semakin memperkeruh citra agama islam yang seharusnya baik justru terjadi sebaliknya. Semakin dianggap islam sebagai sebuah agama yang tidak moderat akan memunculkan citra islam yang otoriter, islam yang memaksakan kehendak, islam yang arogan islam yang tidak memberi ruang kelompok lain. Padahal tidak demikian kenyataannya.

Akhir kata, mari kita membangun citra islam yang memiliki ajaran baik ini sebagai agama yang baik pula dimata orang lain. Dengan menjadikan pendidikan islam yang tepat sebagai landasan serta mampu memberi porsi adil pada keberagaman yang ada di Indonesia ini.

[1] Dr. Jasafat, “Distorsi Terhadap Islam; Analisis Pemberitaan Media Barat”, dalam Jurnal Peuradeun, Vol. II, No. 02, Mei 2014., hal 197-198.

Write Comment...

Name

Email