Mari Melihat

3/3
Mari Melihat

Melihat kejadian-kejadian di sekeliling, menurut saya, menjadi sebuah keharusan bagi kalangan yang menyatakan diri sebagai kaum pergerakan –bisa juga sebab efek identitas yang dilekatkan pada sebutan tersebut. Meski pada umumnya, katakanlah diskursus tentang ‘tetek bengek’ sistem kenegaraan, kebijakan pemerintah, maupun krisis kebangsaan menjadi pilihan menu utama. Tak sedikit pula yang lebih memilih isu-isu tentang kampus dan masalah yang muncul di dalamnya. Sebagai tema besar lokus tukar pikiran.

Namun, melihat kejadia sekeliling tentunya tidak ada salahnya. Semacam melihat rumah di ujung gang kos-kosan, apakah sedang dijerat kemiskinan setelah tak dapat berjualan karena lapaknya digusur, atau mungkin orang yang tidur di emperan toko sebab tak mampu memiliki tempat tinggal.

Pada prosesnya, ada beberapa bentuk keberlanjutan dari “melihat sekeliling” di atas, bisa menjadikannya sebagai tulisan dan upayakan untuk terpublikasikan, agar segera ditangani pihak yang berkewajiban. Ada pula yang terjun langsung melibatkan diri dalam penyelesaian sebuah kasus yang terjadi. Tentu dalam dua hal diatas tak akan hanya sekedar melihat, melainkan mengadakan sebuah studi adalah keharusan.

Namun, sebelum lebih jauh “melihat” dan membahas out put-nya, jangan melupakan bekal yang harus dimiliki oleh seorang yang menyandang nama pergerakan. Sebab tenpa memiliki bekal yang cukup, akan ada tabir tebal bernama kesadaran. Seseorang yang belum sadar tak akan mampu “melihat”. Nah, kesadaran ini akan lahir ketika asupan yang masuk ke kepala adalah asupan yang bergizi, lebih mudahnya memilih informasi dan menyaring buku yang dibaca harus dilakukan agar kesadaran itu muncul.

Setelah kesadaran muncul, lalu melihat sekeliling, serta menentukan out put yang dirasa mampu untuk dijalani, Apakah sampai disini ? harusnya tidak. Masih ingat pepatah “satu batang lidi akan mudah di patahkan, tapi seratus lidi akan susah dipatahkan”. Di sini kita masuk dalam ranah kuantitas, pengorganisasian massa. Adalah sebuah tantangan tersediri untuk dapat memobilisasi massa dengan sudut pandang yang sama, disana harus ada proses membagi ilmu untuk menunjang pergerakan yang akan dilaksanakan, entah pergerakan apapun itu.

Tidak sedikit orang yang memiliki ilmu namun tak dapat menyampaikan keilmuaanya kepada orang lain bahkan dengan tujuan mempersamakan persepsi terhadap suatu permasalahn yang tengah dihadapi. Sebuah kemampuan lanjutan yang harus dimiliki oleh seorang kaum pergerakan adalah penyampaian kembali terhadap oran lain. Dengan demikian hasil yang di upayakan akan lebih terang dibandingkan berpeluh sendirian.

Jangan dulu mengharap hasil, sebab kita mengawali ini dengan melihat. Terkadang setelah berkedip, pandangan kita bisa kabur dan buram. Perjelas kembali pandangan kita, agar tak terlena.

Write Comment...

Name

Email