Mitos Kecantikan

2/3
MItos Kecantikan

Mendengar kata “cantik” disebut, sebagian dari kita cenderung merujuk kepada perempuan yang berkulit putih, bibir merah, rambut hitam lurus, tinggi semampai, dan langsing. Sehingga banyak perempuan yang mengejar kecantikan dengan berbagai cara yang ditempuh. Mulai dari sulam bibir, penggunaan behel, meluruskan rambut, penggunaan pemutih badan bahkan sampai yang paling ekstrim yaitu operasi payudara.

Semua itu ditempuh oleh kaum perempuan untuk tampil cantik menurut satandar ideal perempuan pada saat ini. Selain itu, media sangatlah berperan penting dalam mengkonstruk masyarakat Indonesia, khususnya kaum perempuan. Bahwa dalam media periklanan, seringkali perempuan itu digambarkan layaknya bidadari yang memiliki kulit putih, paras yang cantik, tinggi dan seksi, rambut hitam dan lurus.

Standar kecantikan bagi perempuan yang dibentuk media tersebut menggambarkan perempuan yang ideal seperti hal-hal yang telah disebutkan di atas. Semua hal tersebut seolah yang harus dimiliki perempuan jika ia ingin terlihat cantik. Namun, standar kecantikan tersebut tidak cocok jika diterapkan di Indonesia. Dimana pada dasarnya kulit asli perempuan Indonesia itu berwarna kuning langsat bukan perempuan yang memiliki warna kulit putih –jangan tertipu dengan warna-warni layar kaca.

Entah sejak kapan setandarisasi kecantikan itu berlaku. Namun dalam faktanya para leluhur kita mengamini adanya standar kecantikan bagi perempuan tersebut. Di Suku Dayak misalnya, wanita merasa cantik dengan telinga panjang, karena memanjangkan telinga memiliki arti bahwa wanita tersebut memiliki status sosial yang tinggi. Selain itu, memiliki telinga yang panjang menjadi pembeda antara wanita bangsawan dan wanita yang menjadi budak karena kalah perang. Di Jawa perempuan merasa cantik dengan mengenakan sanggul.

Sering sekali, saya melihat Instagram teman yang diolok-olok atau di-bully karena dia gemuk dan berfoto dengan pose tertentu. Ada pula teman yang di-bully karena dia sangat kurus. Orang sering berkomentar soal bentuk dan postur tubuh, apakah ini karena mereka perempuan? Sehingga orang lebih memperhatikan dan tubuh menjadi objek perhatian. Mereka menerapkan standart ideal mereka kepada orang lain. Apakah mereka ini terkena kontruksi sosial? Atau kita sudah termakan kapitalisime. Termakan iklan tentang kecantikan dan tubuh yang ideal?

Apakah ini semua bagian dari histerisasi tubuh perempuan? Yang menurut Foucault, tubuh perempuan dianalisis dan diintegrasikan dalam sistem medis sebagai suatu patologi, kemudian dihubungkan secara organis dengan tubuh sosial. Dari strategi inilah, jenis kelamin ditentukan nilai fungsionalnya secara biologis dan sosial. Ironisnya sasaran untuk menjadi korban dari strategis ini selalu perempuan. Sehingga perempuan yang gemuk itu dianggap patologi dan tidak sesuai dengan standart sosial perempuan yang ideal dan seksi. Perempuan yang terlalu gemuk atau kurus akan dianggap susah mempunyai anak atau keturunan. Sehingga secara biologis akan susah berfungsi dengan baik dan akan menyalahi fungsi sosialnya sebagai seorang perempuan.

Apakah tubuh perempuan ini seperti pertunjukan yang terus menerus seperti kata Judith Butler? Gender dan seks bukanlah sebuah kondisi, melainkan adalah pertunjukan terus-menerus yang bukan hanya membentuk keaslian jenis kelamin, melainkan juga mematerialisasikan jenis kelamin. Seks bukanlah sebuah fakta sederhana dan kondisi statis tubuh, melainkan proses dimana norma-norma pengatur mematerialkan seks dan mencapai materialisasi ini melalui pengulangan norma itu secara terus menerus dan dipaksakan. Pengulang-ulangan ini menunjukkan bahwa materialisasi itu tidak pernah tercapai, tubuh juga tidak pernah berhasil benar sesuai dengan apa yang diharapkan. Kita lihat saja bagaimana majalah mode perempuan selalu terlihat lebih cantik, lebih putih, lebih kurus, lebih halus dan hampir tiga perempat isinya adalah iklan kecantikan untuk perempuan. Padahal semua model yang ditampilkan itu adalah rekayasa digital yang dipaksakan agar perempuan terlihat lebih cantik, lebih seksi dan lain sebagainya.

Perempuan selalu menjadi sorotan, dituntut untuk berperan, berpenampilan, berperilaku sesuai dengan peran yang diinginkan masyarakat. Lalu kapan perempuan bisa memutuskan tubuhku adalah milikku, mau gemuk atau kurus, mau mempunyai anak atau tidak, mau perawan atau tidak, mau menikah atau tidak itu adalah hakku dan aku yang memutuskan. Bukan orang lain, bukan pula negara. Jadi kurus, gemuk atau bagaimana pun bentuk tubuh perempuan tidaklah penting. Yang penting adalah bagaimana perempuan dapat menerima tubuhnya, mencintai tubuhnya tanpa takut dengan pendapat atau penilaian masyarakat. Yang penting adalah bagaimana perempuan tumbuh dan berkembang dengan sehat, bahagia dan menjadi dirinya sendiri.

Write Comment...

Name

Email