Merindukan Dosen-Dosen Organik

Kemarin, pikiranku berbusa-busa. Beliaulah, lagi-lagi, pelakunya. Iya, beliau dosenmu itu. Ia seolah telah menuangkan soda ke dalam kepalaku, memegang dua pipiku dan lantas mengoyang-goyangnya. Tau sendiri kan, bagaimana soda jika dikocok. Lha, itu yang kurasakan.

Pernah ndak kamu memiliki dosen yang setiap mengisi seminar pembahasannya ita-itu saja? Setiap mengisi kelas tidak pernah lepas dari cerita perjalanan akademiknya yang melambung tinggi seperti ekspektasi Marx atas masyarakat komunisnya? Yang senantiasa ngomong perkara publikasi-publikasi internasionalnya, riset-riset objektif (katanya), konferensi-konferensi, pengalaman-pengalamannya mengajar di luar Indonesia, beasiswa-beasiswa yang malah berlarian mengejarnya, CV dan sebagainya? Pernah ndak? Jika pernah, harusnya kamu bisa merasakan apa yang kurasa sekarang.

Mengikuti kelasnya dosen berjenis ini, saya merasakan (bedakan dengan menemukan) beberapa hal lucu. Pertama, menyangkut pilihan beliau untuk terlalu banyak mendongeng perkara pencapaian-pencapaian akademik. Pada satu sisi, di ruang “studi”, kita selalu diingatkan untuk tidak mematok apa pun, terutama keilmuan. Apa saja yang berada dalam jebakan ruang dan waktu tidak bisa tidak berkembang, tidak mandek. Terjadi shifting bahasanya Kuhn. Namun, pada sisi lain, mengapa secara tidak langsung ada semacam patok bagi kita untuk memosisikan beberapa perkara seperti “studi di luar negeri”, publikasi jurnal, “CV untuk masa depan”, dan sebagainya di ranah yang “anti-tidak”? Bahkan sampai ada obrolan begini, “Bagi mahasiswa, berhasil itu ada di balik publikasi jurnal. Berhasil itu bersemayam di balik konferensi”.

Apakah itu salah? Sama sekali tidak. Memang penting untuk memikirkan perkara-perkara begitu. Akan tetapi, yang menggemaskan adalah ketika ia diposisikan sebagai “Yang Maha”, Yang Harus, sehingga memunculkan anggapan di kalangan mahasiswa bahwa mereka yang belum pernah konferensi adalah bodoh, tertinggal, dan tidak berhasil. Ah, ini kan perspektif mahasiswa saja? Mahasiswa saja buatukmu. Andai di kelas, di seminar, atau dalam sambutan pembukaan acara tertentu, mereka tidak melulu ndongeng pencapaian-pencapaiannya itu secara berlebihan, mana mungkin mitos di muka muncul. Bagaimana dengan motivasi supaya mahasiswa terpicu? Wah, ini yang susah. Berarti selama ini kita adalah siswa SMP yang dituntut untuk publikasi internasional. Mungkin sih, tapi ketika guru-gurunya tidak lagi berlebihan mendongeng kisahnya sendiri.

Kedua, soal rasa heran, mengapa mereka kok bangga sekali ketika bisa konferensi ke mana-mana, mengisi sekolah di Barat, dan itu gratis? Apakah hal yang sama terjadi pada dosen di Barat yang menjadi dosen tamu di Indonesia? Ah, entah ya, aku jadi khawatir jika salah satu alasan mengapa mereka bisa bangga luar biasa begitu—dan lalu membaginya dengan kita—adalah sebab ada perasaan inlander di relung hati terdalamnya. Bukankah memang kita harus mengakui bahwa Barat jauh di depan kita? Iya, naif malahan jika mengelak. Tapi, lagi-lagi, ya mbok biasa aja. Toh, dalam titik tertentu, kita masih memiliki sesuatu yang tidak ada di Barat. Ego bangsa, bahasanya Iqbal.

Ketiga, ini yang paling menggemaskan. Awalnya, aku agak ragu untuk menuduh mereka inlander atau terlalu mematok pencapaian akademik—yang jujur, bagiku hampa. Tapi, eh ndelalah, tiga hari kemarin, aku mendengar secara jelas jika beliau untuk kelima kalinya bilang kepada kita begini, “Jadi, sebagai mahasiswa, satu yang harus kalian pikirkan sekarang, konferensi tanpa bayar! Riset yang objektif! Perbanyak publikasi jurnal! Saya dulu, waktu mendapatkan beasiswa di Belanda, melakukan riset secara serius. Dan hasilnya, saya yang justru didatangi banyak lembaga riset.” Ini yang kelima. Coba bayangkan, bosen rak?

Sebagai catatan saja, baik dari pihak beliau-beliau atau pun beberapa teman-teman mahasiswa yang berhasil membangun mitosnya sendiri soal CV, ada satu variabel yang mungkin terlewat. Apa itu? Relasi politik. Mengapa misalnya tulisan si A diterima di Jurnal dan si B tidak tentu tidak bisa lepas dari latar belakangnya. Semakin ia intim dengan pengelola jurnal, semakin mudah diterima. Gender juga berperan di sini. Coba tes saja, suruh temanmu yang cantiknya luar biasa dan kemudian mengirimkan tulisannya langsung ke pengelola jurnal yang cowok, duh, saya rasa kemungkinan besar diterima (bukannya bermaksud bias, tapi sekadar menyamakan spektrum dengan yang di lapangan). Jadi, sampai di sini, betapa lucunya kita ketika memosisikan perkara begitu di wilayah meta-narasi, apalagi sampai pada ukuran berhasil tidaknya seseorang.

Dan satu lagi mengenai beasiswa studi, ada satu pertanyaan yang mengusikku selama ini, yaitu, mengapa beasiswa yang banyak kita jumpai adalah berada di ranah keilmuan sosial-humaniora? Kenapa di bidang keilmuan eksak seperti teknik nuklir dan bio-teknologi jarang? Kenapa pula bagi mereka yang usai mendapatkan beasiswa di Barat ada semacam keharusan untuk meneliti apa yang ada di Indonesia sendiri? Ah entahlah. Mungkin aku sedang tidak jernih. Sedang merindukan sosok dosen yang oleh Gramsci disebut organik. Dosen yang tidak saja berbusa-busa soal dirinya sendiri dan kelompok elit tertentu. Dosen yang tidak melulu mengukur manusia secara dangkal, inlander. Tapi dosen yang juga mau meluangkan waktu untuk memikirkan masyarakat di luar kampus. Memikirkan tulisan-tulisan ringan yang bisa dinikmati pula oleh mereka.

Muhammad Saifullah

Muhammad Saifullah

Penikmat kopi, berasal dari Tuban.
Muhammad Saifullah

Latest posts by Muhammad Saifullah (see all)

2 Respon

  1. 10 November 2017

    […] Apa pasal? Sebab hanya itu yang bisa kamu lakukan. Kenapa tidak bilang secara jujur saja padanya? Sia-sia. Iya, menasehati mereka yang memiliki kebiasaan seperti itu ibarat memberi masukan pada orang yang […]

Balasan

%d blogger menyukai ini: